| Bagaimana anak unschooling belajar? |
| Sharing | |
| Written by Dita Maulina | |
|
Setiap kali ada yang
menanyakan bagaimana Nadya belajar, selalu saya jawab, ya melalui apa yang dia
lewati sehari-hari. Learning through living. Aku mengikuti apa yang menjadi
minatnya, dan kemudian kami bersama-sama mengeksplorasinya.
Setelah itu ada banyak
pertanyaan lagi, “Kalau harus mengikuti dan mendalami apa yang dimaui anak,
bagaimana dia tahu ada hal lain yang
lebih menarik? Bukankah lebih baik kita kenalkan dia akan berbagai macam topik,
kegiatan, materi, sehingga wawasannya menjadi lebih terbuka?
Biasanya aku akan
menjawab seperti ini, “Daripada aku kehabisan energi untuk menyakinkan anakku
untuk mencoba hal baru, lebih baik energiku aku keluarkan untuk mendampinginya
mengeksplorasi hal-hal yang ia suka” (mengutip tulisan dari Pam Laricchia di
artikel http://www.nipissingu.ca/jual/Archives/v111/v1111.asp
)
“The world is out there and you want to your
child to explore it! But, while you’re busy trying to convince your child to
try new things, you might just be missing another exciting way to explore the
world: through their interest.”
Pam bercerita
bagaimana dia mendampingi anaknya mengeksplorasi apa yang mereka suka.
Putranya, Joseph (14 tahun) sangat tergila-gila video games – RPG (role playing
games). Dan ia memberikan kebebasan kepada Joseph untuk bermain video games
sepuasnya, sambil ia dampingi dan ikut berperan sebagai patner Joseph dalam
mengeksplorasi gamesnya. Pertama kali Joseph
mengenal jenis permainan ini saat ia berusia 7 tahun. Ia memutuskan untuk ikut bermain games. Ia ingin tahu hal ‘asyik’ apa
yang ada di games tersebut yang membuat anaknya begitu antusias bermain.
Bersama Joseph, Pam ikut belajar tentang video games.
Tidak butuh waktu lama
bagi Pam untuk menyadari, bahwa melalui mainan favoritnya
Joseph belajar akan
banyak hal – dunia terbuka dan terbentang luas melalui permainan yang ia
lakukan. Diantaranya:
Membaca. Untuk bermain
video games-terutama jenis RPG, selalu ada cerita yang melatarbelakangi sebagai
intro/pengenalan akan games tersebut.
Jika anak kita belum bisa membaca, kita dapat membacakannya, sehingga ia
tidak hanya sekedar bermain, tapi juga dapat menikmati permainan dan mengikuti
jalan ceritanya. Selain itu sebelum bermain kita butuh untuk membaca panduan
permainan, reviews tentang permainan tersebut, artikel-artikel di majalah games
yang memuat tentang permainan tersebut.
Penelitian: Dalam
mencari informasi akan games yang sedang ia mainkan, Joseph sudah melakukan
kegiatan penelitian (research skills). Menemukan dan mengevaluasi berbagai
informasi yang ia temukan. Ia browsing via internet tentang segala sesuatu yang
ingin ia ketahui tentang games yang ia mainkan, ia jelajahi beberapa fan sites ttg games tersebut, ia telaah/
analisa artikel yang ia baca, solusi yang ia temukan langsung dipraktekkan.
Kemampuan untuk meneliti ini berkembang secara natural, ia ingin tahu akan sesuatu dan berusaha
mencari jawabannya untuk dapat menyelesaikan gamesnya.
Menulis: Kemampuan
menulis Joseph mau tidak mau terasah, saat ia menuliskan pertanyaan di ‘message
board’ situs games yang sedang ia mainkan. Menulis secara singkat, padat dan
jelas, dengan tanda baca dan pengejaan yang tepat, tentunya membutuhkan
ketrampilan sendiri.
Matematika: banyak
sekali komponen matematika yang ditemukan dalam suatu games. Variabel kesehatan
tokohnya, diagram persenjataan, sistem barter, tingkat keahliannya, statistik
kekuatan, dll. Variabel-variabel ini menentukan kemajuan tingkat kemajuan
seorang player. Selain itu logika berpikir sangat dibutuhkan dalam bermain
games. Tidak jarang seseorang player harus memecahkan persamaan aljabar untuk
dapat menemukan jawaban berapa langkah yang harus ditempuh untuk ke target
berikutnya. Intinya ditemukan 1001 macam persoalan matematikan yang harus
dipahami oleh seorang player untuk dapat menyelesaikan permainannya.
Mythology, sejarah,
bahasa, budaya, seni, musik, programming, social skill,adalah beberapa hal lain
yang Joseph pelajari melalui kesenangannya bermain video games.
Learning is about making
connections – connecting new information to something you already know. It
helps to recognize that the best learning is really by product of living:
having a real, concrete reason to learn something is great motivation.
Hal yang kurang lebih
sama terjadi juga di Nadya (4,5tahun). Perkenalan pertamanya dengan film-film
disney saat ia menginjak usia 2,5tahun. Saat itu aku belikan film The Lion
King. Entah sudah berapa puluh kali film itu diputar, dia sampai hafal
dialognya, lagu-lagunya, dan bagian favoritnya. Sambil menonton film itu,
sesekali dia bertanya, nama hewan, apa makanannya, tinggal dimana,
kebiasaan-kebiasaan mereka, karakteristik mereka. Ia ikut bersama denganku saat
mencari informasi tentang binatang-binatang tersebut. Ia meminta dibelikan
buku-buku tentang hewan dan meminta
dibacakan, menggambar hewan-hewan favoritnya. Tidak jarang aku meminta dia
untuk menceritakan kembali film yang ia lihat, aku tanyakan pendapatnya tentang
beberapa adegan yang ada, aku tanyakan apa pendapatnya tentang film tersebut,
apa yang dia tangkap dari film tersebut, terkadang kami membuat cerita sendiri
berdasarkan tokoh dari film yang kami tonton,
buat lapbooknya, dll
Hal yang sama tetap
kami lakukan dengan film lain yang
menjadi favoritnya dari produksi disney/pixar, seperti Mulan,
Peterpan, Finding Nemo, Ice Age, Little Eisntein, Dinosaurus, dan yang saat ini
masih sangat dia sukai adalah Cars.
Dari film-film yang
dia tonton ini, minatnya menjadi lebih luas lagi, ia belajar sendiri untuk
dapat mengapung dan menyelam di kolam renang beberapa hari yang lalu. Tidak mau
aku bantu atau dipegang badannya. Dengan caranya sendiri ia menemukan cara
mengapung di kolam – terinspirasi dari ikan-ikan dalam Finding Nemo atau Jane
dalam Peter Pan. Ia ingin bisa bermain biola seperti
Nadya belajar banyak
dari film-film yang dilihatnya ini, bahasa inggris, seni, musik, sejarah, drama,
research skills, membaca, bercocok tanam, berenang, dll. Saya tidak perlu
mengarahkan dia untuk belajar ini itu, cukup dengan mendampinginya secara
aktif, bersama-sama mengeksplorasi, bermain bersama, maka ia mendapati luasnya
dunia melalui cara yang dia suka.
With
unschooling learning new facts and skills is more a side effect: bits and
pieces on information they need to know along a way to accomplishing something.
So whatever they are interested in at the moment will be the basic for the best
learning. Not to mention the most fun and interesting.
Lihat semua artikel yang ditulis oleh penulis ini |
|
| < Prev | Next > |
|---|